Skip to main content
Ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Di Rahim Kata, Ibu Mengubur Suara
Darah tidak hanya mengalirkan rupa dan warna mata, namun kadang-kadang ia mengalirkan kutukan yang paling indah, yaitu keinginan untuk menulis. Di rumah sederhana mereka di Desa Sukamaju, pagi tidak pernah datang dengan suara kicau burung yang klise bagi Gestra Pradeepa Sanjana.

PAGI DATANG melalui aroma kopi pahit yang diseduh bapaknya, Arjuna, dan bau apek buku-buku tua yang disembunyikan ibunya, Rupa, di dalam sebuah peti kayu yang digembok rapat di sudut kamar.

Gestra lahir saat aroma tinta di meja kayu ibunya mulai memudar, digantikan oleh bau tanah basah dan keringat sawah. Namanya adalah doa dari Arjuna, sang bapak, yang meski hanya anak petani yang sering mencuri waktu ke kota untuk belajar hal baru, percaya bahwa putranya harus menjadi pelita yang tak pernah padam. Namun, bagi Rupa Chetana, nama itu adalah pengingat akan sebuah nyala yang pernah membakar jiwanya hingga menjadi abu.

Perjamuan Masa Lalu di Bandung 1995

Kisah Arjuna dan Rupa bermula di sebuah aula gedung tua di kawasan Kota Bandung pada tahun 1995. Suasananya riuh oleh asap rokok kretek dan diskusi intelektual yang meledak-ledak. Arjuna, yang nekat kabur dari bapaknya dengan menumpang truk sayur demi melihat "isi dunia", terpaku di sudut ruangan. Ia merasa kecil di antara orang-orang berkaus hitam yang bicara tentang eksistensialisme dan postmodernisme.

Namun, matanya tertuju pada seorang gadis dengan kemeja flanel kebesaran yang sedang berdiri di depan rak buku. Gadis itu adalah Rupa. Matanya penuh api saat ia membedah sebuah antologi puisi.

BACA JUGA : Ular Rumah Tangga

"Kamu suka sastra juga?" tanya Arjuna canggung, mencoba mencairkan kekakuannya sebagai anak desa.

Rupa menoleh, tersenyum tipis yang membuat jantung Arjuna berdegup lebih kencang dari mesin perontok padi. "Aku tidak hanya suka. Aku ingin menjadi bagian dari sejarah yang ditulis di atas kertas-kertas ini," jawab Rupa mantap.

Saat itu, Rupa adalah ambisi yang berjalan. Ia merantau dari desa bukan untuk mencari uang, melainkan untuk mencari keabadian melalui tulisan. Arjuna jatuh cinta pada api itu. Selama beberapa tahun di kota, Arjuna bekerja serabutan sebagai kuli angkut di pelabuhan hanya agar bisa membelikan Rupa pita mesin tik baru atau sekadar kertas kuarto bergaris.

"Menulis itu seperti membangun rumah di atas angin, Jun," bisik Rupa suatu sore di sebuah kontrakan sempit, sebelum mereka akhirnya menyerah pada keadaan dan pulang ke desa. "Indah dilihat, tapi tak pernah benar-benar membumi. Dan ketika anginnya hilang, rumah itu runtuh menimpamu.”

Arjuna hanya tersenyum, mengusap telapak tangan Rupa yang masih menyimpan bekas kapalan akibat menggenggam pena terlalu lama. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum itu, Rupa sedang berperang dengan hantu-hantu penolakan. Selama sepuluh tahun, Rupa telah menyerahkan seluruh hidupnya pada mesin tik. Ratusan naskah ia kirim ke kantor-kantor redaksi, namun hanya dua yang berhasil mencium kertas koran. Sisanya? Tumpukan surat penolakan dengan kalimat standar yang akhirnya melahirkan depresi yang nyaris merenggut kewarasannya sebelum Arjuna membawanya

Warisan yang Tak Diinginkan

Gestra tumbuh dengan mewarisi rasa percaya diri Arjuna yang keras kepala, namun ia juga memiliki mata Rupa yang selalu gelisah mencari makna di balik benda-benda. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap kepakan sayap capung di pinggir sawah, lalu pulang dengan secarik kertas penuh kalimat yang bergetar.

Karena ibunya melarang keras segala bentuk kegiatan menulis, Gestra melakukannya dalam senyap. Ia menulis di balik bungkusan benih padi, di atas sobekan kalender bekas, bahkan di permukaan daun jati kering menggunakan lidi yang dicelupkan ke sisa arang dapur. Baginya, kata-kata adalah udara. Jika ia berhenti menulis, ia merasa sesak napas.

"Ibu, dengar ini," ucap Gestra suatu malam, saat lampu minyak menari-nari di dinding bambu mereka. Ia tidak tahan lagi untuk memendam rahasianya. "’Sawah ini adalah hamparan sajak yang ditulis Tuhan dengan tinta hijau. Pematangnya adalah garis batas antara doa petani dan jawaban langit...’”

Prak!

Rupa membanting sendok ke atas piring seng. Suaranya memecah kehangatan ruang makan yang hanya berisi lauk sambal korek dan tempe goreng. Wajahnya yang biasanya lembut berubah menjadi mendung pekat.

BACA JUGA : Blok F

"Berhenti, Ges. Jangan pernah menulis satu kata pun lagi," desis Rupa. Suaranya bukan amarah, melainkan ketakutan yang mendalam yang berasal dari lubuk trauma yang paling gelap.

"Tapi ini bakatku, Bu. Seperti Ibu dulu—"

"Tidak ada bakat dalam kesia-siaan!" potong Rupa cepat. Ia mendekati putranya, mencengkeram bahu Gestra. Matanya basah oleh air mata yang sudah dipendam puluhan tahun.

"Menjadi sastrawan itu seperti tenggelam dalam lautan yang kau ciptakan sendiri, Ges. Kau akan merasa sedang berenang menuju pantai yang indah, padahal kau hanya sedang menunggu paru-parumu dipenuhi air asin yang dingin. Ibu tidak ingin kau mati konyol seperti mimpi-mimpi Ibu di kota dulu. Ibu ingin kau selamat. Jadilah petani, jadilah pedagang, asal jangan jadi pengemis kata-kata!”

Pertarungan di Meja Makan

Gestra menatap ibunya dengan tatapan yang dipinjam dari keberanian bapaknya. Bagi Gestra, trauma Rupa adalah pagar berduri yang harus ia lompati agar ia bisa melihat cakrawala. Ia tahu ibunya mencintai sastra lebih dari siapapun; itulah sebabnya Rupa begitu membencinya sekarang. Kebencian adalah bentuk cinta yang paling terluka, paling berdarah.

"Bu," Gestra bicara dengan nada yang lebih tenang, seolah ia sedang membujuk tanah agar mau ditanami kembali. "Ibu gagal bukan karena sastra itu jahat. Ibu gagal karena waktu itu dunia belum siap mendengar suara Ibu. Sekarang berbeda. Aku punya suara yang Ibu beri lewat darah ini.”

Rupa memalingkan wajah, bahunya berguncang. Kenangan akan tumpukan amplop cokelat berisi surat penolakan kembali berputar di kepalanya. Masa sepuluh tahun yang berdarah-darah itu seolah baru terjadi kemarin. Ia teringat saat ia harus menahan lapar hanya untuk membeli prangko pengiriman naskah, yang akhirnya hanya berakhir di keranjang sampah redaksi.

Arjuna yang duduk di sudut ruangan hanya bisa terdiam. Ia adalah saksi hidup bagaimana Rupa nyaris kehilangan nyawanya karena depresi saat naskah novel setebal 500 halaman miliknya dibakar oleh kenyataan karena tidak ada yang mau menerbitkannya. Namun, Arjuna juga saksi bagaimana mata Gestra bersinar setiap kali ia menemukan diksi baru.

Secara sembunyi-sembunyi, Arjuna mendekati Gestra malam itu. Ia memberikan sebuah buku catatan kosong bersampul kulit imitasi yang ia beli dengan uang tabungan hasil menjual sisa gabah. "Tulis apa yang kau rasakan, Ges. Tapi jangan sampai ibumu tahu sekarang. Biarkan waktunya yang bicara.”

Coretan di Bawah Pohon Beringin

Gestra tidak berhenti. Di bawah pohon beringin tua di ujung desa, ia menemukan suakanya. Di sana, ia terus menulis. Ia menulis tentang Rupa; tentang jemari ibunya yang kini kasar karena mencangkul, namun dulu sangat lentur menari di atas tuts mesin tik. Ia menulis tentang Arjuna yang selalu menjadi jembatan antara tanah yang becek dan awan yang tinggi.

Ia ingin membuktikan pada Rupa bahwa sastra tidak selalu berarti tenggelam. Sastra bisa menjadi perahu yang membawa mereka menyeberangi kesedihan.

Suatu hari, sebuah pengumuman lomba muncul di koran bekas yang membungkus ikan asin. Temanya: Suara dari Pinggiran. Gestra menuliskan setiap detail rasa sakit ibunya dalam sebuah cerpen berjudul "Ibuku yang Mengubur Mesin Tik". Ia mengakhiri ceritanya dengan harapan bahwa mimpi tidak pernah benar-benar mati, ia hanya tidur menunggu musim semi.

BACA JUGA : Tongkat Salat Jumat

Berbulan-bulan kemudian, sepucuk surat datang ke alamat desa mereka. Surat itu tebal, dengan logo sebuah lembaga sastra ternama. Arjuna yang menerima surat itu pertama kali, tangannya gemetar. Ia tahu inilah saatnya.

Di suatu malam yang sama, Gestra meletakkan naskah yang sudah dicetak rapi dan sebuah piala kecil di depan ibunya yang sedang menjahit baju yang robek. Rupa tertegun. Ia menatap piala itu seolah melihat hantu dari masa lalunya sendiri.

"Baca ini saja, Bu. Sekali saja. Kalau Ibu tetap menyuruhku berhenti setelah membacanya, aku akan membakar semua buku catatanku," tantang Gestra dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan.

Rupa mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Ia membaca setiap barisnya di bawah temaram lampu teplok rumah mereka. Di sana, ia tidak menemukan kesombongan seorang penulis muda. Ia menemukan dirinya sendiri seorang gadis flanel tahun 90-an yang pernah berani bermimpi. Gestra tidak sedang menulis fiksi untuk orang lain; ia sedang menulis surat cinta untuk memulihkan martabat ibunya.

Air mata Rupa jatuh tepat di atas nama "Gestra Pradeepa Sanjana" yang tertulis di pojok naskah. Pelita yang Tak Padam. Ia menyadari bahwa selama ini ia bukan melindungi Gestra, melainkan memenjarakan dirinya sendiri dalam dendam pada masa lalu.

"Tuliskan bab selanjutnya, Ges," bisik Rupa pelan, suaranya pecah oleh keharuan. Ia menarik Gestra ke dalam pelukannya. "Jangan biarkan tintamu kering hanya karena Ibu pernah haus. Ternyata, tulisanmu adalah hujan yang Ibu tunggu selama puluhan tahun."

Di luar, angin desa membawa aroma tanah basah setelah hujan pertama di bulan Oktober. Arjuna tersenyum lebar dari balik pintu, merasa misinya sebagai perantara telah tunai. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Rupa tidak lagi melihat sastra sebagai jurang maut, melainkan sebagai tempat di mana suara-suara marjinal seperti mereka bisa menemukan tempat untuk bertumbuh bersama.

Sastra di tangan Gestra bukan lagi rumah di atas angin, melainkan akar yang menghujam kuat ke dalam bumi Sukamaju. Kata-kata dan semangat Gestra menumbuhkan apa yang sekian lama telah punah dari imajinasi Rupa. Ingatan Arjuna kembali ke masa pertama kali ia bertemu Rupa. Baginya, paras istrinya selalu seakan-akan terbuat dari untaian makna yang terpilin begitu indah saat ia sedang mendekap kata-kata.

 

Asyfi Ramadhani

Mahasiswi semester 6 jurusan Ilmu Komunikasi Humas di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selain aktif bergelut di dunia akademik, ia memiliki pengalaman sebagai penulis artikel dengan spesialisasi bertemakan perempuan, literasi, dan gaya hidup. Baginya, menulis dan memotret adalah cara terbaik untuk mengabadikan keberagaman cerita manusia yang sering kali luput dari pandangan. Alamat Media Sosial: @he3yafi 

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.